Peksy Pojects

Photo Gallery

Member Login






Testimonial
Yosafat Andhika Pratama E-mail
Saturday, 01 October 2011 00:07

Saya sebagai alumni SMAK Kolose Santo Yusup Malang yang berasal dari keluarga dengan ekonomi yang terbatas dan telah menerima beasiswa dari PEKSY untuk melanjutkan study saya ke jenjang yang lebih tinggi ( mahasiswa S1 Pendidikan Akuntansi di Universitas Negeri Malang ), dengan penuh hormat saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak dan Ibu sekalian yang telah membantu dan memberikan bantuan dana kepada saya. Sekali lagi saya dan orang tua mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas kemurahan hati anggota PEKSY selama ini.

Semoga kebaikan dan kemurahan hati Bapak dan Ibu Tuhan sendirilah yang akan membalasnya.

Tuhan memberkati seluruh anggota PEKSY.

 
Selsa Triasdhiarchintya Puspaputri E-mail
Saturday, 01 October 2011 00:01

Saya adalah alumni SMAK Kolese Santo Yusup angkatan 2009. Saya melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Malang jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2009. Saya memasuki tahun ke tiga kuliah di Universitas Negeri Malang, sekarang saya sedang menempuh semester 5. Saya dapat melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Malang berkat bantuan dari PEKSY SMAK Kolese Santo Yusup yaitu melalui program beasiswa kuliah siswa yang mengambil bidang keguruan.

Saya mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan para pengurus PEKSY yang berkenan membiayai saya dan beberapa teman saya untuk melanjutkan kuliah, terutama kuliah dengan tujuan menjadi guru. Program yang diadakan PEKSY untuk memberikan beasiswa kepada kami ini sangat membantu. Program ini memberikan kesempatan bagi para siswa yang ingin melanjutkan kuliah keguruan dengan memberi beasiswa uang kuliah penuh selama masa kuliah.

Permohonan yang saya ajukan tiga tahun yang lalu untuk mendapatkan beasiswa dari PEKSY dikabulkan. Saya sangat berterimakasih, dengan adanya beasiswa tersebut saya menjadi lebih terpacu untuk mencapai nilai maksimal dalam setiap mata kuliah walau ada yang masih belum berhasil mencapai nilai maksimal.

Saya memilih menjadi seorang guru, dengan harapan suatu saat nanti saya dapat mengajar di almamater tercinta SMAK Kolese Santo Yusup. Saya ingin menyalurkan segala sesuatu yang saya pelajari selama kuliah kepada siswa-siswi SMAK Kolese Santo Yusup. Saya ingin turut serta mengambil bagian dalam mengembangkan potensi siswa-siswi SMAK Kolese Santo Yusup terutama dalam bidang pelajaran Bahasa Indonesia.

Saya berharap semakin banyak siswa-siswi lulusan SMAK Kolese Santo Yusup yang berminat untuk melanjutkan kuliah di bidang keguruan untuk menjadi seorang guru yang tentunya sangat dibutuhkan di mana saja. Semoga program beasiswa yang diadakan oleh PEKSY ini semakin berkembang dan semakin menarik minat para siswa-siswi SMAK Kolese Santo Yusup untuk memasuki dunia pendidikan sebagai seorang pendidik yang handal bukan hanya dalam hal teori melainkan juga dalam hal praktik yaitu praktik mengajar. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan dari pengurus PEKSY yang telah mengadakan program beasiswa ini.

 
Rebecca Agustina Karunia Sutanto E-mail
Friday, 30 September 2011 23:44

 

Pertama-tama saya ucapkan beribu-ribu banyak terima kasih kepada Ibu Margaretha (Bu Rita) yang mana telah memperkenalkan saya dengan pihak PEKSY hingga PEKSY mau membiayai saya kuliah dari awal hingga akhir (4 tahun lebih). Andaikata saya tidak diperkenalkan dengan PEKSY, mungkin saya tidak dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Saya tidak bisa membalas budi kebaikan kepada pihak PEKSY semuanya dan Bu Rita. Kiranya Tuhan yang membalas budi kebaikan semuanya dengan berlipat ganda. Sekian dan terima kasih.

 

 
Dream Can Be True If You Want It To Be True E-mail
Tuesday, 25 May 2010 01:35

Terlahir di keluarga yang sederhana alias pas-pas an, niat untuk melanjutkan studi di luar negeri sama sekali tidak pernah ada dalam kepalaku. Aku sama sekali tidak berani bermimpi terlalu tinggi, karena sejak kecil aku terbiasa mendengar kata-kata,”Jangan berharap terlalu tinggi! Nanti kalau tidak mendapatkannya kamu akan merasa sakit!”. Karenanya aku tumbuh menjadi orang yang “nerimo-nerimo wae” .

Ketika masuk ke SMA Kolese Yusup, entah mengapa aku mulai mengubah pandanganku. Aku mulai berpikir optimis untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dan aku berpikir bahwa dengan melanjutkan ke universitas yang ternama, aku bisa memperoleh pekerjaan yang layak dan kemudian mengangkat ekonomi keluarga. Rupanya perubahan pandangan ini membuatku berubah menjadi orang yang berambisi.

Oleh karenanya, aku berusaha sekuat tenaga belajar dengan baik. Karena aku pikir dengan nilai rapor yang bagus, aku akan bisa mendapatkan beasiswa di universitas yang ternama. Aku mulai menforsir diri sendiri untuk mendapatkan nilai ujian yang gemilang. Namun konsekuensinya, setiap ada ujian, aku selalu merasa tegang dan muncul ketakutan-ketakutan yang bahkan tidak masuk akal. Contohnya, sewaktu ujian berlangsung, tidak jarang aku mengalami kram tangan dan keringat dingin. Sampai-sampai aku tidak bisa menggerakan tanganku untuk menulis. Dan parahnya, setelah ujian selesai, aku masih tetap gusar dan tidak bisa tidur memikirkan tentang hasil ujian tadi.

Situasi ini berlangsung sampai kelulusanku. Aku berhasil memperoleh rangking 3 pararel IPA dan nilai UNAS yang cukup bagus pada saat itu. Namun, aku sama sekali tidak mendapatkan apa yang aku mau. Aku tidak bisa masuk ke universitas ternama yang aku idam-idamkan. Tentunya karena masalah ekonomi. Dan nilai-nilai SMA-ku selama ini  tidak otomatis membuatku di terima di universitas itu. Aku harus menjalani beberapa tes untuk mendapatkan beasiswa penuh, namun ternyata hasil tesku tidak memenuhi persyaratan untuk memperoleh  beasiwa penuh.  Beberapa tes di universitas lain kujalani, namun hasilnya sama. Aku mulai merasa putus asa, dan menganggap diri sendiri begitu bodoh, karena tidak bisa mengerjakan tes tersebut. Dan akhirnya tidak ada pilihan lain selain masuk ke sebuah universitas swasta di Malang karena orangtuaku memaksaku untuk masuk kuliah.

Keputusasan dan kemarahan selalu menghantuiku sejak saat itu. Aku berubah menjadi pemurung dan sering marah-marah sendiri. Sering sekali aku berpikir bahwa “Buat apa aku belajar susah-susah waktu SMA, kalau akhirnya hanya bisa sekolah di universitas macam itu!”, “TUHAN tidak adil!”.Sering sekali aku bertengkar dengan orang tua karena masalah tersebut.

Masalah utamanya adalah aku tidak bisa menerima keadaan yang ada pada saat itu. Aku sering merasa malu sendiri ketika orang-orang bertanya kepadaku “Kamu kuliah di mana?”. Selain itu, aku merasa minder dan iri melihat teman-temanku yang lain bisa masuk ke universitas yang mereka inginkan dengan mudah.

Di tengah keputusasaan itu, aku mencoba mendaftar sebuah program beasiswa ke Jepang. Pada mulanya aku cuma main-main. Karena aku pikir bahwa tidak mungkin aku bisa memperoleh keberuntungan sebagus itu. Untuk memperoleh beasiswa tersebut, ada 4 tahap  yang harus dilewati dengan susah. Tahap 1 adalah seleksi dokumen, yaitu seleksi berdasarkan nilai rapor dan UNAS, tahap ke 2 adalah ujian tertulis, tahap 3 adalah interview, dan tahap terakhir adalah penyeleksian seluruh peserta di dunia. Namun, keberuntungan itu memang terjadi. Ternyata aku lulus ujian tertulis tersebut, dan  pihak penyelenggaranya memanggilku untuk wawancara lebih lanjut di Jakarta. Saat itu aku begitu bahagia dan langsung memberitahu keluargaku. Namun ternyata reaksi mereka tidak sebahagia diriku. Mereka keberatan dan masih belum rela untuk melepasku pergi ke negeri Sakura tersebut. Selain itu, ada banyak sindiran pedas yang kuterima dari orang di sekelilingku. “Apa kamu tidak sadar bagaimana kondisi keluargamu, sampai-sampai kamu mau kuliah di Jepang segala?!”.

Begitu banyak tekanan yang kuterima dan aku berpikir untuk menyerah dan tidak jadi pergi ke Jakarta untuk wawancara. Pada saat itu aku banyak berkonsultasi dengan Bu. Rita, wakil kepala sekolah SMA Kolese Santo Yusup. Beliau memberikan semangat padaku untuk pergi ke Jakarta, namun aku merasa tidak ada jalan lagi selain menyerah. Namun ternyata Tuhan berkata lain, pada 1 hari sebelum hari wawancara, Pak Sinjanto dari PEKSY Pusat, menelponku untuk pertama kalinya. Bu Rita lah yang memberitahu Pak Sinjanto mengenai masalahku. Dalam telepon tersebut, beliau menyuruhku pergi ke Jakarta untuk interview dan tidak usah banyak pikir. Entah kenapa, setelah menerima telpon ajaib itu, aku memperoleh keberanian untuk pergi ke Jakarta. Walaupun saat itu aku sama sekali tidak tau bagaimana dan siapa Pak Sinjanto itu.

Di temani oleh mamaku, aku langsung naik kereta ke Jakarta sore itu juga. Setelah 14 jam duduk di kereta, akhirnya aku sampai di Jakarta. Aku sangat terkejut ketika melihat Pak Sinjanto  sudah datang menjemputku di stasiun Gambir. Kemudian kami langsung diantar ke tempat interview. Dan semuanya berjalan sangat lancar, sampai keluar pengumuman bahwa aku lulus ke tahap akhir. Aku merasa sangat terkejut sekaligus senang karena akhirnya aku bisa mendapatkan kesempatan besar untuk studi ke Jepang. Namun kebahagiaan itu hancur seketika. Ternyata pada tahap final, aku dinyatakan tidak lulus. Saat itu juga aku merasa sangat terpuruk. Rasanya seperti jatuh ke dalam jurang.  Aku sangat beruntung ada Pak Taro Lay dari PEKSY Jakarta yang banyak memberi dorongan padaku, baik melalui e-mail maupun sms agar aku bisa bangkit lagi.

Mulai saat itu banyak perubahan yang terjadi dalam hidupku, aku tidak lagi marah-marah pada diri sendiri maupun orang tua dan mulai bisa menerima semua kegagalan tersebut. Dan  ke dua orangtuaku yang pada awalnya keberatan mengenai beasiswa ini mulai berubah, mereka memberikan dorongan untuk mencoba sekali lagi... Pada tahun selanjutnya, aku kembali mencoba untuk mendaftar beasiswa itu  lagi.  Aku berusaha sekuat tenaga untuk memepersiapkan ujian tersebut. Setiap pagi, aku bangun jam 4 pagi untuk pergi ke warnet untuk mendownload semua latihan soal.. Karena di rumahku sama sekali tidak ada  sambungan internet.  Setiap hari aku berusaha belajar dengan baik dan mengulang pelajaran. Dan akhirnya semua usaha kerasku berbuah, sekali lagi aku di panggil interview di Jakarta. Begitu beruntungnya aku karena PEKSY Pusat juga  memberikan bantuannya sekali lagi padaku. Setelah melalui semua proses itu sekali lagi, akhirnya aku LULUS dan dinyatakan sebagai penerima beasiswa pemerintah Jepang bersama beberapa anak Indonesia lainnya.

Saya sadar bahwa semuanya ini tidak lepas dari campur Tuhan dan bantuan dari PEKSY. Oleh karena itu saya ingin mengucapkan begitu banyak terima kasih pada semua pihak yang telah memberikan bantuan pada saya. Terima kasih banyak karena sudah memberikan banyak bantuan pada saya seperti “Kakak yang membantu Adiknya”. Majulah terus KOSAYU !!!!! TETAP BERSEMANGAT! Motto yang luar biasa ini tidak akan saya lupakan seumur hidup.

 

USMAN SANTOSO (Angkatan 2008)