Peksy Pojects

Photo Gallery

Member Login






Ekspo Karir
Resume Ekspo Karir KOSAYU 2010 E-mail
Thursday, 07 October 2010 10:12

Created by: Bpk.Sutiono Gunawan

Edited by: Bobby Budiarto

  1. Tidak ada korelasi positif maupun korelasi negatif antara sekolah/pendidikan terhadap kesuksesan pekerjaan/karir. Artinya prestasi di sekolah TIDAK MENJAMIN kesuksesan, dan kegagalan di sekolah TIDAK MENUTUTUP jalan kesuksesan dalam kehidupan. Ada yang LEBIH YANG HARUS DIPELAJARI & DILAKUKAN untuk mencapai hidup dan karier yang sukses.

Dengan demikian sekolah/pendidikan tetap diperlukan.

Contoh: P.T. Ciputra membutuhkan tenaga kerja dengan IPK minimal 3,00. Nilai sebagai ukuran, karena mahasiswa yang baru lulus belum mempunyai pengalaman kerja.

Pendidikan melatih kita untuk menaati/mengikuti suatu sistem.

Kadang jurusan perkuliahan tidak sesuai dengan pekerjaan yang ditekuni. Tidak perlu ada penyesalan, karena tempaan pada saat kuliah akan mengasah logika, cara berpikir, pembuatan keputusan, dan pengaturan waktu.

Dalam pekerjaan dibutuhkan 3 hal: hard skill, soft skill, dan kerja keras. Soft skill adalah teamwork, leadership, entrepreneurship. Dalam semua bidang dibutuhkan kerja keras, dan kerja keras hanya bisa kalau ada passion. Kerjakan segala sesuatu dengan passion, perasaan suka, dan sungguh-sungguh.

Jiwa wirausaha timbul sambil bekerja, perlu kecerdikan.

Setiap orang perlu memiliki cita-cita, target, dan ambisi. Kata ambisi sering kali dianggap negatif oleh masyarakat, namun ambisi sangat penting untuk mencapai cita-cita kita. (Red: Ambisi sering dianggap negatif karena unsur lain yg sering mengikuti ambisi, yaitu tidak fair dan tidak hormat pada sesama manusia, sombong. Dengan sikap adil dan hormat pada sesama manusia, ambisi malah akan makin melambungkan capaian-capaian manusia. Contoh aktual: Obama).

2. Pada era lama, orang tua ikut andil dalam menentukan jurusan perkuliahan anak, karena terbatasnya  informasi, Parent knows better“.

Setiap orang tua ingin anaknya berhasil, keinginan ini yang menimbulkan kekuatiran.

3. Pada era sekarang, sebaiknya orang tua memberi masukan kepada anak, dan keputusan dibuat oleh anak.

Follow your heart dan buatlah komitmen, tetapi jangan terburu-buru karena usia anak SMA usia yang masih naif. Walaupun Pak Ook meninggalkan bangku kuliah untuk berwiraswasta, tetapi beliau mengingatkan supaya jangan asal ikut-ikutan apalagi ikut-ikutan drop-out.

Belajarlah merencanakan sesuatu. Buatlah peta jalan hidup kamu, sehingga kamu tahu kapan harus terus dan kapan harus berbelok.

Pendidikan sampai SMA saja tidak cukup untuk memulai karir, karena bersaing dengan lulusan  perguruan tinggi.